Mengakomoditikan
“TABOT” Bengkulu
Keragaman
suku
dan budaya di Indonesia merupakan berkah tersendiri. Hal itu
merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal demi
kemajuan bangsa. Salah satunya ialah menjaga lingkungan dengan
memanfaatkan kearifan local.
Sebagai
bangsa yang kaya akan kearifan lokal, kita harus mampu bertahan dari
budaya asing, mampu mengakomodasikan budaya asing yang masuk,
mengintegrasikan dan mengendalikan pengaruh budaya luar tersebut,
serta mampu menentukan arah perjalanan budaya bangsa.
Awal
kehancuran bangsa bisa berawal dari hancurnya sebuah kebudayaan. Itu
sebabnya betapa penting sebuah kebudayaan dilestarikan sebagai
identitas bangsa.
Salah
satu dari sekian banyaknya warisan budaya yang berkembang di
Indonesia adalah tabot yang ada di Bengkulu. Prosesi ritual Tabot ini
hidup dan berkembang di sebagian masyarakat terutama terutama kota
Bengkulu. Tabot merupakan suatu perayaan traditional dengan
bermacam-macam upacara yang heroism. Nama TABOT sendiri berasal dari
bahasa arab yaitu “TABUT” yang secara harfiah berarti “Kotak
atau Peti”. Asal mula perayaan Tabot terkait pada kisah perjuangan
Cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Husein (anak dari Siti Fatimah
Az-Zahroh Binti Muhammad) dimana Husein gugur dalam perperangan di
suatu tempat yang bernama padang kerbala melawan kaum kawarij. Beliau
gugur dalam sebuah peperangan yang tidak seimbang karena lascar yang
beliau pimpin tidak seimbang dengan jumlahnya musuh. Tradisi Tabot
merupakan sebuah tradisi menyambut Muharram. Tabot juga menapak di
padang, yang di kenal dengan nama “Tabuik”.
Provinsi Bengkulu
sebagai provinsi ke-26 di Indonesia, memiliki sebuah tradisi yang
sudah dilaksanakan ratusan tahun bahkan sejak sebelum menjadi
“provinsi merdeka” pada tahun 1967 dengan berpisah dari Sumatera
Selatan. Kebudayaan atau tradisi itu adalah Tabot. Meski di Sumatera
Barat juga ada kebudayaan serupa yang disebut Tabut, namun Tabot di
Bengkulu sudah menjadi ciri khas karena sudah dilaksanakan hingga
sekitar 328 tahun (1685-2013). Lebih tua dibandingkan usia Kota
Bengkulu sendiri yang kini 294 tahun.
Warisan
budaya yang sudah berlangsung sejak lebih dari 300 tahun ini perlu
mendapat perlindungan agar pelaksanaannya bukan hanya akan
berkontribusi pada pelestarian masyarakat, tapi juga mampu
mendongkrak sector-sektor lain di masyarakat.
Sebagai
media pemersatu Tabot Bengkulu dapat menjadi media pariwisata. Pada
saat ada perayaan Tabot orang-orang dari berbagai daerah di Bengkulu
dan luar kota banyak yang datang ke Bengkulu. Perayaan ini juga
mengundang pedagang-pedagang dari daerah lain. Orang-orang Lombok
misalnya membawa cindera mata tersendiri untuk di jual di Bengkulu.
Orang-orang dari bali begitupun juga sama. Dari segi pariwisata
fenomena ini sangat menguntungkan. Sepuluh hari sebelum acara puncak
Tabot Bnegkulu diadakan pemeran atau semacam pasar malam yang menjual
berbagai macam kebutuhan masyarakat. Acara ini berpusat di view Tower
kota Bengkulu. Masyarakat dari berbagai daerah di Bengkulu
berbondong-bondong untuk datang ke acara Tabot ini. Dari segi
pariwisata fenomena ini sangat menguntungkan. Oleh karena itu
pemerintah Bengkulu menjadikan Tabot ini sebagai komoditi pariwisata
yang di andalkan. Akan tetapi perayaan Tabot ini belum banyak di
kenal oleh wisatawanlokal apalagi wisatawan mancanegara sehingga
belum mampu menarik wisatawan untuk datang ke Provinsi Bengkulu.
Pelaksanaan Tabot di
Provinsi Bengkulu yang diadakan setiap 1-10 Muharram tahun Islam,
selalui diwarnai oleh berbagai macam kisruh yang jika dibiarkan
lambat laun malah membuat kebudayaan ini tidak bisa berkembang dan
menjadi lebih baik lagi. Dari pemberitaan diterbitkan Harian Rakyat
Bengkulu, beberapa persoalan yang muncul dari pelaksanaan kegiatan
Tabot antara lain minimnya anggaran dana yang dikucurkan dari
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), sementara targetnya Tabot
Bengkulu go Internasional. Belum adanya upaya pemerintah terhadap
kelestarian budaya Tabot sebagai sebuah tradisi di Bengkulu dan
menjadikannya sebagai identitas daerah adalah salah satu penghambat
kemajuan dari sektor
pariwisata dan ekonomi daerah.
Hal
inilah yang menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi Dinas
kebudayaan dan Pariwisata kota Bengkulu untuk dapat mengenalkan acara
Tabot dikancah nasional bahakan internasional. Dengan begitu dapat
menarik wisatawan untuk datang kea car Tabot dan dapat meningkatkan
sector pariwisata Kota Bengkulu serta meningkatkan perekonomian
Bengkulu pula. Keinginan calon wisatawan harus didorong agar mau
datang pada saat di selenggarakannya festival Tabot. Dengan adanya
promosi maka festival Tabot di Provinsi Bengkulu akan semakin di
kenal dan mampu meningkatkan arus wisatawan untuk datang ke Propinsi
Bengkulu. Dengan meningkatnya arus wisatawan yang masuk maka akan
diperoleh juga beberapa manfaat diantaranya adalah meningkatnya
pendapatan asli daerah. Dengan adanya promosi yang dilakukan sangat
membawa keuntungan untuk kota Bengkulu. Tabot
sebagai tradisi dan kebudayaan yang sudah dilaksanakan secara
terus-menerus selama ratusan tahun merupakan kesenian yang memiliki
tempat sendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Pemerintah
harus lebih menjaga dan menanamkan kebudayaan pelestarian budaya
khususnya Tabot kota Bengkulu yang dapat dilakukan dengan terjun
langsung dalam pengalaman kultural kebudayaaan Tabot dengan begitu
masyarakat dapat dianjurkan
untuk belajar dan berlatih dalam menguasai kebudayaan
Tabot
tersebut. Dengan demikian dalam setiap tahunnya selalu dapat dijaga
kelestarian budaya Tabot ini.
Pemerintah
kota Bengkulu harusnya juga dapat membuat
suatu pusat informasi mengenai kebudayaan Tabot
yang
dapat difungsionalisasi kedalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk
edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri
dan potensi kepariwisataan daerah. Dengan demikian para Generasi Muda
dapat mengetahui tentang kebudayaanya sendiri.
Selain itu kita
juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu
sendiri
khusunya masyarakat domisili Bengkulu itu sendiri.
Dengan hal ini setidaknya kita dapat mengantisipasi pencurian
kebudayaan yang dilakukan oleh negara - negara lain.
Penyakit
masyarakat kita ini adalah mereka terkadang tidak bangga terhadap
produk atau kebudayaannya sendiri. Kita lebih bangga terhadap
budaya-budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita
sebagai orang timur. Budaya daerah banyak hilang dikikis zaman. Oleh
sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya.
Akibatnya kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal
dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam.
Di
sini peran pemerintah dalam melestarikan budaya bangsa juga sangatlah
penting. Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis
dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah yang dimana dapat
meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Pemerintah harus
mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya
pelestarian kebudayaan.
Dalam acara kebudayaan Tabot di kota Bengkulu sendiri dengan di
adakannya pameran-pameran serta upacara-upacara adat yang di lakukan
sebagai upaya pengenalan kepada
generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari
leluhurnya. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal
pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai
kebudayaan yang kita miliki. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan
perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah guna
meningkatkan acara
ataupun kebudayaan Tabot dikanca nasional maupun internasional.
Seiring
timbulnya kesadaran bahwa bila bukan kita yang melakukan upaya
pelestarian budaya, maka tak dapat dihindari lama-kelamaan budaya
adiluhung dari bangsa kita akan semakin tergeser dan terpinggirkan
oleh budaya asing yang datang bertubi-tubi dari berbagai arah, terus
menggerus kebudayaan daerah.
Munculnya
kesadaran terhadap upaya pelestarian budaya diberbagai kalangan ini
memang perlu disyukuri, sebab bukan saja orang-orang tua yang
melakukan kegiatan-kegiatan sebagai upaya pelestarian budaya di
kalangan masyarakat tetapi berbagai instansi dan bahkan di kalangan
pemuda, mahasiswa, dan anak-anak mulai ditanamkan kecintaan terhadap
budaya daerah yang pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran terhadap
upaya pelestarian kebudayaan daerah. Hal ini
juga dapat berpengaruh guna meningkatkan perekonomian maupun dalam
sektor pariwisata daerah Kota Bengkulu khususnya.
Berbagai kegiatan diberbagai instansi dan kalangan masyarakat dalam
upaya pelestarian kebudayaan seperti
Seminar
Budaya, Pentas Budaya, Pekan Budaya telah banyak dijumpai dalam
berbagai moment seperti peringatan Hari Jadi sebuah kota atau suatu
instansi. Semangat ini perlu terus dijaga dan dikembangkan bukan saja
sebagai upaya membendung pengaruh negatif dari budaya asing yang
tidak lagi dapat dihindari di zaman globalisasi modern ini, tetapi
sebagai upaya kaderisasi di kalangan pemuda untuk lebih mengenal dan
mencintai budaya sendiri.
Dengan ini pemerintah beserta masyarakatnya dapat meningkatkan mutu
serta citra daerah baik dari kanca nasional ataupun internasional.
Oleh
sebab itu, seharusnya bukan hanya keluarga keturunan Sipai atau Imam
Senggolo saja peduli dalam penyelenggaraannya. Tapi juga tidak
terlepas pula dari kerjasama antara masyarakat kota Bengkulu dengan
pihak-pihak terkait. Mari kita bersama-sama mengenalkan acara acara
Tabot ini demi kemajuan pariwisata dan ekonomi Kota Bengkulu. Dengan
kebudayaan
tersebutlah yang menjadi identitas suatu bangsa atapun
daerah. Oleh karena itu perlunya kesadaran diri baik dari pemerintah
maupun masyarakat kota Bengkulu sendiri untuk meningkatkan
pelestarian serta pengenalan kebudayaan Tabot di kanca nasional
maupun internasional guna kemajuan kota serta sector daerah dari kota
Bengkulu sendiri. Dengan ini kota Bengkulu dapat meningkatkan ekonomi
daerah serta meningkatkan sektor pariwisata Bengkulu. Oleh karena itu
marilah kita bersama-sama memperkenalkan dan melestarikan Tabot
Bengkulu guna meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi demi
kemajuan kota Bengkulu.