Wednesday, 30 March 2016

Mengakomoditikan “TABOT” Bengkulu

Keragaman suku dan budaya di Indonesia merupakan berkah tersendiri. Hal itu merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal demi kemajuan bangsa. Salah satunya ialah menjaga lingkungan dengan memanfaatkan kearifan local. Sebagai bangsa yang kaya akan kearifan lokal, kita harus mampu bertahan dari budaya asing, mampu mengakomodasikan budaya asing yang masuk, mengintegrasikan dan mengendalikan pengaruh budaya luar tersebut, serta mampu menentukan arah perjalanan budaya bangsa. Awal kehancuran bangsa bisa berawal dari hancurnya sebuah kebudayaan. Itu sebabnya betapa penting sebuah kebudayaan dilestarikan sebagai identitas bangsa. Salah satu dari sekian banyaknya warisan budaya yang berkembang di Indonesia adalah tabot yang ada di Bengkulu. Prosesi ritual Tabot ini hidup dan berkembang di sebagian masyarakat terutama terutama kota Bengkulu. Tabot merupakan suatu perayaan traditional dengan bermacam-macam upacara yang heroism. Nama TABOT sendiri berasal dari bahasa arab yaitu “TABUT” yang secara harfiah berarti “Kotak atau Peti”. Asal mula perayaan Tabot terkait pada kisah perjuangan Cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Husein (anak dari Siti Fatimah Az-Zahroh Binti Muhammad) dimana Husein gugur dalam perperangan di suatu tempat yang bernama padang kerbala melawan kaum kawarij. Beliau gugur dalam sebuah peperangan yang tidak seimbang karena lascar yang beliau pimpin tidak seimbang dengan jumlahnya musuh. Tradisi Tabot merupakan sebuah tradisi menyambut Muharram. Tabot juga menapak di padang, yang di kenal dengan nama “Tabuik”.
Provinsi Bengkulu sebagai provinsi ke-26 di Indonesia, memiliki sebuah tradisi yang sudah dilaksanakan ratusan tahun bahkan sejak sebelum menjadi “provinsi merdeka” pada tahun 1967 dengan berpisah dari Sumatera Selatan. Kebudayaan atau tradisi itu adalah Tabot. Meski di Sumatera Barat juga ada kebudayaan serupa yang disebut Tabut, namun Tabot di Bengkulu sudah menjadi ciri khas karena sudah dilaksanakan hingga sekitar 328 tahun (1685-2013). Lebih tua dibandingkan usia Kota Bengkulu sendiri yang kini 294 tahun. Warisan budaya yang sudah berlangsung sejak lebih dari 300 tahun ini perlu mendapat perlindungan agar pelaksanaannya bukan hanya akan berkontribusi pada pelestarian masyarakat, tapi juga mampu mendongkrak sector-sektor lain di masyarakat.
Sebagai media pemersatu Tabot Bengkulu dapat menjadi media pariwisata. Pada saat ada perayaan Tabot orang-orang dari berbagai daerah di Bengkulu dan luar kota banyak yang datang ke Bengkulu. Perayaan ini juga mengundang pedagang-pedagang dari daerah lain. Orang-orang Lombok misalnya membawa cindera mata tersendiri untuk di jual di Bengkulu. Orang-orang dari bali begitupun juga sama. Dari segi pariwisata fenomena ini sangat menguntungkan. Sepuluh hari sebelum acara puncak Tabot Bnegkulu diadakan pemeran atau semacam pasar malam yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat. Acara ini berpusat di view Tower kota Bengkulu. Masyarakat dari berbagai daerah di Bengkulu berbondong-bondong untuk datang ke acara Tabot ini. Dari segi pariwisata fenomena ini sangat menguntungkan. Oleh karena itu pemerintah Bengkulu menjadikan Tabot ini sebagai komoditi pariwisata yang di andalkan. Akan tetapi perayaan Tabot ini belum banyak di kenal oleh wisatawanlokal apalagi wisatawan mancanegara sehingga belum mampu menarik wisatawan untuk datang ke Provinsi Bengkulu.
Pelaksanaan Tabot di Provinsi Bengkulu yang diadakan setiap 1-10 Muharram tahun Islam, selalui diwarnai oleh berbagai macam kisruh yang jika dibiarkan lambat laun malah membuat kebudayaan ini tidak bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Dari pemberitaan diterbitkan Harian Rakyat Bengkulu, beberapa persoalan yang muncul dari pelaksanaan kegiatan Tabot antara lain minimnya anggaran dana yang dikucurkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), sementara targetnya Tabot Bengkulu go Internasional. Belum adanya upaya pemerintah terhadap kelestarian budaya Tabot sebagai sebuah tradisi di Bengkulu dan menjadikannya sebagai identitas daerah adalah salah satu penghambat kemajuan dari sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi Dinas kebudayaan dan Pariwisata kota Bengkulu untuk dapat mengenalkan acara Tabot dikancah nasional bahakan internasional. Dengan begitu dapat menarik wisatawan untuk datang kea car Tabot dan dapat meningkatkan sector pariwisata Kota Bengkulu serta meningkatkan perekonomian Bengkulu pula. Keinginan calon wisatawan harus didorong agar mau datang pada saat di selenggarakannya festival Tabot. Dengan adanya promosi maka festival Tabot di Provinsi Bengkulu akan semakin di kenal dan mampu meningkatkan arus wisatawan untuk datang ke Propinsi Bengkulu. Dengan meningkatnya arus wisatawan yang masuk maka akan diperoleh juga beberapa manfaat diantaranya adalah meningkatnya pendapatan asli daerah. Dengan adanya promosi yang dilakukan sangat membawa keuntungan untuk kota Bengkulu. Tabot sebagai tradisi dan kebudayaan yang sudah dilaksanakan secara terus-menerus selama ratusan tahun merupakan kesenian yang memiliki tempat sendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Pemerintah harus lebih menjaga dan menanamkan kebudayaan pelestarian budaya khususnya Tabot kota Bengkulu yang dapat dilakukan dengan terjun langsung dalam pengalaman kultural kebudayaaan Tabot dengan begitu masyarakat dapat dianjurkan untuk belajar dan berlatih dalam menguasai kebudayaan Tabot tersebut. Dengan demikian dalam setiap tahunnya selalu dapat dijaga kelestarian budaya Tabot ini.

Pemerintah kota Bengkulu harusnya juga dapat membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan Tabot yang dapat difungsionalisasi kedalam banyak bentuk. Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan potensi kepariwisataan daerah. Dengan demikian para Generasi Muda dapat mengetahui tentang kebudayaanya sendiri. Selain itu kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu sendiri khusunya masyarakat domisili Bengkulu itu sendiri. Dengan hal ini setidaknya kita dapat mengantisipasi pencurian kebudayaan yang dilakukan oleh negara - negara lain. Penyakit masyarakat kita ini adalah mereka terkadang tidak bangga terhadap produk atau kebudayaannya sendiri. Kita lebih bangga terhadap budaya-budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Budaya daerah banyak hilang dikikis zaman. Oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya. Akibatnya kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam.
Di sini peran pemerintah dalam melestarikan budaya bangsa juga sangatlah penting. Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah yang dimana dapat meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan. Dalam acara kebudayaan Tabot di kota Bengkulu sendiri dengan di adakannya pameran-pameran serta upacara-upacara adat yang di lakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan yang kita miliki. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah guna meningkatkan acara ataupun kebudayaan Tabot dikanca nasional maupun internasional.


Seiring timbulnya kesadaran bahwa bila bukan kita yang melakukan upaya pelestarian budaya, maka tak dapat dihindari lama-kelamaan budaya adiluhung dari bangsa kita akan semakin tergeser dan terpinggirkan oleh budaya asing yang datang bertubi-tubi dari berbagai arah, terus menggerus kebudayaan daerah. Munculnya kesadaran terhadap upaya pelestarian budaya diberbagai kalangan ini memang perlu disyukuri, sebab bukan saja orang-orang tua yang melakukan kegiatan-kegiatan sebagai upaya pelestarian budaya di kalangan masyarakat tetapi berbagai instansi dan bahkan di kalangan pemuda, mahasiswa, dan anak-anak mulai ditanamkan kecintaan terhadap budaya daerah yang pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran terhadap upaya pelestarian kebudayaan daerah. Hal ini juga dapat berpengaruh guna meningkatkan perekonomian maupun dalam sektor pariwisata daerah Kota Bengkulu khususnya. Berbagai kegiatan diberbagai instansi dan kalangan masyarakat dalam upaya pelestarian kebudayaan seperti Seminar Budaya, Pentas Budaya, Pekan Budaya telah banyak dijumpai dalam berbagai moment seperti peringatan Hari Jadi sebuah kota atau suatu instansi. Semangat ini perlu terus dijaga dan dikembangkan bukan saja sebagai upaya membendung pengaruh negatif dari budaya asing yang tidak lagi dapat dihindari di zaman globalisasi modern ini, tetapi sebagai upaya kaderisasi di kalangan pemuda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya sendiri. Dengan ini pemerintah beserta masyarakatnya dapat meningkatkan mutu serta citra daerah baik dari kanca nasional ataupun internasional. Oleh sebab itu, seharusnya bukan hanya keluarga keturunan Sipai atau Imam Senggolo saja peduli dalam penyelenggaraannya. Tapi juga tidak terlepas pula dari kerjasama antara masyarakat kota Bengkulu dengan pihak-pihak terkait. Mari kita bersama-sama mengenalkan acara acara Tabot ini demi kemajuan pariwisata dan ekonomi Kota Bengkulu. Dengan kebudayaan tersebutlah yang menjadi identitas suatu bangsa atapun daerah. Oleh karena itu perlunya kesadaran diri baik dari pemerintah maupun masyarakat kota Bengkulu sendiri untuk meningkatkan pelestarian serta pengenalan kebudayaan Tabot di kanca nasional maupun internasional guna kemajuan kota serta sector daerah dari kota Bengkulu sendiri. Dengan ini kota Bengkulu dapat meningkatkan ekonomi daerah serta meningkatkan sektor pariwisata Bengkulu. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memperkenalkan dan melestarikan Tabot Bengkulu guna meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi demi kemajuan kota Bengkulu.

No comments:

Post a Comment